100%
Ditjen-Percepatan-Pembangunan-Daerah-Tertinggal
Daerah-Tertinggal
Rote Ndao, 22-28 Februari 2026 — Yayasan Selancar Arungi Indonesia (Affiliate of SurfAid) melaksanakan rangkaian kegiatan co-design, kunjungan lapangan, dan diskusi lintas pemangku kepentingan di Kabupaten Rote Ndao sebagai bagian dari partisipasi dalam Good Start Challenge 2026. Inisiatif ini berfokus pada pengembangan modul kelas pengasuhan “Papa–Mama Setara”, yang bertujuan memperkuat keterlibatan ayah dan ibu secara bersama dalam pengasuhan anak serta mendukung peningkatan gizi keluarga di wilayah kepulauan dan daerah tertinggal.
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah kabupaten Rote Ndao (Bupati, Ketua PKK Kabupaten, Bapelitbangda, OPD), NGO, dan mitra pembangunan, termasuk partisipasi dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Dalam kegiatan ini, perwakilan Kemendes yang hadir, Ni Luh Arum dan Cut Jihan, memberikan perspektif mengenai peran desa dalam penguatan keluarga, keterlibatan orang tua dalam pengasuhan, serta integrasi program keluarga dalam sistem pembangunan desa.
Program ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk merancang model kelas pengasuhan yang lebih inklusif dan kontekstual, terutama dalam mendorong perubahan perspektif bahwa pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga peran bersama antara ayah dan ibu dalam keluarga.
Rangkaian Kegiatan:
1. Kunjungan Lapangan dan Observasi Keluarga
Kegiatan diawali dengan briefing observasi, penjelasan panduan kunjungan keluarga, serta pengarahan mengenai perlindungan peserta dan masyarakat (safeguarding). Setelah itu, peserta melakukan kunjungan lapangan ke desa dampingan.
Kunjungan dilakukan di:
-Desa Lentera
-Desa Temas
Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi keluarga balita dan ibu hamil yang telah mengikuti program pendampingan, termasuk keluarga yang memiliki kintal gizi aktif. Dalam kunjungan ini, peserta berdiskusi langsung dengan kader Posyandu, kader kelas pengasuhan, serta keluarga penerima manfaat mengenai pengalaman mereka dalam mengikuti program, praktik pengasuhan sehari-hari, serta perubahan yang dirasakan oleh keluarga.
Observasi lapangan ini menjadi bagian penting dalam memahami kondisi nyata masyarakat desa, sehingga modul pengasuhan yang dikembangkan dapat sesuai dengan kebutuhan dan realitas keluarga di lapangan.
2. Diskusi Program dan Berbagi Pengalaman Lintas Kementerian
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pembukaan, pemaparan program yang telah berjalan di wilayah Rote, serta pembelajaran dari implementasi kelas pengasuhan di daerah lain.
Dalam sesi ini, masing-masing kementerian juga menyampaikan pengalaman program terkait pengasuhan keluarga, pendampingan orang tua balita dan ibu hamil, serta praktik monitoring dan evaluasi program yang telah dilaksanakan di berbagai wilayah.
Perwakilan dari Kemendesa menyampaikan perspektif bahwa desa memiliki peran strategis sebagai ruang utama intervensi pembangunan keluarga. Sistem desa, termasuk pendamping desa, dana desa, serta proses perencanaan desa, dapat menjadi sarana untuk memperluas implementasi kelas pengasuhan yang melibatkan ayah dan ibu secara setara.
Sesi ini juga dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk merumuskan masukan dan ide pengembangan modul kelas pengasuhan berdasarkan hasil observasi lapangan.
3. Penyusunan Awal Modul dan Rencana Tindak Lanjut
Peserta melanjutkan proses diskusi dan penyusunan draft awal modul kelas pengasuhan yang akan dikembangkan bersama. Diskusi ini juga mencakup pengembangan metode pembelajaran, media edukasi, serta pendekatan yang dapat digunakan oleh kader dan fasilitator di tingkat desa.
Dalam sesi ini juga disepakati rencana tindak lanjut bersama, termasuk proses penyempurnaan modul, uji coba di lapangan, serta koordinasi lanjutan antar pihak yang terlibat hingga tahap finalisasi modul pada pertengahan tahun 2026.
Hasil Temuan Lapangan:
Dualitas Realita Pengasuhan di Desa
Dari hasil kunjungan dan diskusi bersama keluarga serta kader di desa, ditemukan adanya dualisme realita dalam praktik pengasuhan anak di masyarakat desa.
Di satu sisi, terdapat keluarga di mana ayah mulai aktif terlibat dalam pengasuhan anak. Beberapa ayah memahami pentingnya peran bersama dalam tumbuh kembang anak, mendukung pasangan dalam pengasuhan, bahkan turut hadir dalam kegiatan Posyandu dan kelas pengasuhan di desa. Hal ini menunjukkan adanya perubahan positif dalam perspektif pengasuhan keluarga.
Namun di sisi lain, masih terdapat keluarga yang menghadapi tantangan besar dalam menjalankan pengasuhan, termasuk ibu yang menjalankan peran pengasuhan seorang diri dengan berbagai keterbatasan dukungan sosial maupun ekonomi. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan sistem dukungan keluarga dan komunitas masih menjadi kebutuhan penting di desa.
Temuan ini menjadi dasar penting dalam penyusunan modul pengasuhan Papa–Mama Setara agar lebih kontekstual, inklusif, dan relevan dengan kondisi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah tertinggal.
Melalui kolaborasi ini, ARUNGI bersama pemerintah dan mitra berharap modul pengasuhan yang dikembangkan dapat menjadi model pembelajaran yang dapat diterapkan secara lebih luas di desa-desa lain di Indonesia termasuk di Daerah Tertinggal, sekaligus memperkuat peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak dan pembangunan sumber daya manusia sejak dini.