100%
Sosialisasi
Jakarta, 13 Oktober - Persiapan masa pensiun perlu direncanakan sejak pegawai masih berada di usia produktif. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah menjadikan emas sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan jangka panjang.
Kerjasama Ditjen PPDT bersama BSI (Bank Syariah Indonesia) merupakan edukasi keuangan kepada seluruh pegawai untuk memahami pentingnya mempersiapkan kebutuhan hidup untuk jangka waktu beberapa tahun hingga masa kerja berakhir, terutama dalam menghadapi tantangan pembiayaan hidup pada masa pensiun.
Materi yang disampaikan juga menyajikan simulasi kebutuhan emas sebagai instrumen persiapan keuangan jangka panjang dengan beberapa produk yang ditawarkan BSI, yaitu tabungan emas, cicilan emas, gadai emas dan titipan emas.
Sekretaris Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, hadir dan membuka kegiatan ini. Mety Susanty menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan agar pegawai dapat memahami dalam mengelola keuangan, "Sosialisasi ini dibutuhkan para pegawai dimana pegawai memiliki banyak keinginan dan kebutuhan namun dengan pendapatan terbatas". "Pengelolaan keuangan dan investasi ini diharapkan dapat terpenuhi melalui kebutuhan cicilan emas, umroh bahkan pergi haji", tambahnya.
Diskusi dilanjutkan oleh narasumber dari BSI Siti Syamsiyah Area Micro dan Pawning Manager, yang menjelaskan bahwa Emas dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen diversifikasi aset untuk membantu mempersiapkan kebutuhan masa depan. Namun, perencanaan pensiun tetap perlu memperhatikan inflasi serta risiko perubahan harga emas.
Acara dilanjutkan dengan diskusi keuangan dan pembagian doorprize dari BSI. Melalui edukasi ini, pegawai diharapkan semakin memahami bahwa persiapan pensiun bukanlah sesuatu yang baru dimulai ketika seseorang mendekati usia pensiun, melainkan proses yang perlu dibangun secara bertahap selama masa produktif dan pengelolaan keuangan dapat dilakukan dengan lebih cermat.